Searching...
12/01/13
03.32

LOGIKA 2011 Wilayah Surabaya

Ya kali ini saya mencoba mengingat-ingat kembali penyisihan lomba matematika di Surabaya yang diadakan oleh HMD Matematika UI 2010, tulisan ini sebenarnya muncul karena acara yang biasa disebut LOGIKA (Lomba dan Kegiatan Matematika) 2013 akan diadakan kembali dan membuat saya sedikit bernostalgia dengan LOGIKA sebelumnya. Pertama, saya coba jelasakan apa itu LOGIKA ? LOGIKA merupakan salah satu proker terbesar dari HMD Matematika UI pada periode tahun genap sehingga acara ini diadakan setiap dua tahun sekali, pada tahun 2011 LOGIKA terbagi dalam beberapa wilayah penyisihan dan salah satunya adalah Surabaya. Kegiatan LOGIKA itu sendiri merupakan perlombaan matematika dimana pesertanya adalah para siswa SMA, dimana mereka akan saling beradu ilmu mengenai matematika baik secara individu maupun berkelompok.  

Pada LOGIKA 2011 terdahulu saya ditugaskan menjadi jenlap di daerah penyisihan Surabaya, saat itu saya dibantu oleh beberapa teman yakni Sandy, Budhi, Agung, Ai dan Icha. Kami menuju Surabaya menggunakan angkutan kereta api ekonomi, saya dengan Sandy, Budhi, Agung dan Ai berangkat bersama dari stasiun Pasar Senen sedangkan Icha akan menyusul ketika kita sudah sampai di Surabaya karena dia akan berangkat dari Blitar.



Dari kiri : saya, Sandy, Icha, Ai, Budhi, Agung sedang berfoto di depan baliho LOGIKA '11
Perjalanan dari Jakarta menuju Surabaya sangat mengesankan karena menggunakan kereta kelas ekonomi, selama perjalanan tidak henti-hentinya pedagang asongan hilir mudik di gerbong kereta baik pagi, siang, sore, bahkan tengah malam pun ada. Barang dagangan yang mereka jualkan bervariasi mulai dari makanan ringan hingga berat, air minum dari air putih hingga kopi dan barang-barang lainnya yang bisa dibawa dengan tangan mereka.Semakin menarik ketika suara-suara pedagang tersebut menawarkan barang dagangannya dengan logat Jawa yang terkadang membuat kami tertawa. Sebenarnya saya tidak terlalu terganggu dengan mereka karena dengan kondisi seperti itu saya dapat melihat bagaimana keadaan masyarakat Indonesia terutama di Pulau Jawa. 

Jika boleh jujur bukan pedagang asongan yang mengganggu saya selama perjalanan namun pihak KAI-nya sendirilah yang menyebalkan, karena nomor tempat duduk yang kami tempati dari Jakarta dijual kembali kepada orang lain di daerah sekitar Cirebon-Tegal sehingga kami harus duduk berdesak-desakkan dari Tegal sampai sebelum Surabaya. Bayangkan, tempat duduk yang berkapasitas empat orang tiketnya dimiliki oleh enam atau tujuh orang, maka tak heran bagi saya bila dahulu ketika lebaran tiba, gerbong kereta ekonomi seperti barak pengungsian yang sudah overload kapasitasnya.

Ketidaknyamanan tersebut tuntas dibayar ketika pagi harinya, saya melihat secara langsung bagaimana kuningnya sawah, hijaunya pemandangan dan keindahan alam lainnya yang sangat jarang terlihat di Jakarta. Selain itu, udara yang masuk dari sela-sela jendela gerbong kereta memberikan kesegaran tersendiri bagi saya. Keadaan seperti itulah yang membuat saya ingin melakukan perjalanan kembali dengan kereta ekonomi.

Sesampainya di Surabaya kami disambut dengan sangat hangat oleh kawan-kawan ITS, ada Mas Benny, Mas Sholeh dan kawan-kawan ITS lainnya yang sangat ramah membantu kelancaran kegiatan penyisihan LOGIKA 2011 di Surabaya. Yah di Surabaya lokasi babak penyisihan LOGIKA '11 diadakan di gedung Matematika ITS dan alhamdulillah ketika itu semuanya berjalan lancar. Di Surabaya sendiri, kami menginap di kontrakan Mas Sholeh dkk, di sana kami menghabiskan waktu kurang lebih tiga hari dua malam. Selain melaksanakan tugas utama dari Depok, kami juga menyempatkan diri berpetualang di kota Surabaya, hal ini menjadi semakin mudah karena ayahnya Agung memiliki teman di Surabaya dan temannya tersebut memberikan kita sebuah mobil + supir untuk sarana transportasi selama di Surabaya.

Hal pertama yang membedakan antara Depok dan Surabaya bagi mahasiswa seperti saya adalah biaya hidupnya, di Surabaya dengan uang 8500 saya sudah bisa mendapatkan nasi, ayam goreng, tahu, tempe dan es jeruk sedangkan di Depok untuk mendapatkan makanan tersebut pasti harganya lebih dari 8500. Selain itu, biaya kontrakan atau kos-kosan di sekitar ITS lebih murah dibanding di sekitar UI, ditambah lagi dengan biaya-biaya lainnya yang menurut saya cukup murah bila dibandingkan dengan biaya-biaya yang ada di Depok.

Setelah menyelesaikan penyelisihan LOGIKA di wilayah Surabaya, pada esoknya kami menyempatkan untuk berkeliling Surabaya. Melewati jembatan Suramadu (meski hanya melewati saja tanpa turun dari mobil saat di Pulau Madura), makan lontong balap, melihat daerah kota tua Surabaya (hampir mirip dengan daerah kota tua di Jakarta), melihat stadion 10 November yang selalu disesaki Bonek Mania ketika Persebaya berlaga dan aktifitas-aktifitas lainnya yang membuat kami mengenal Surabaya secara sekilas.

Akhirnya, semua kegiatan telah selesai dan waktunya kami untuk kembali ke Depok. Saat itu, ada hal yang menarik kembali untuk diceritakan yakni ketika kami pulang ternyata sedang terjadi kerusuhan antara Bonek dengan pendukung Persela Lamongan dan isunya ada salah satu suporter Persela Lamongan yang meninggal dunia akibat kerusuhan tersebut. Kejadian ini salah satunya berdampak pada kereta api, jadi setiap kereta yang menuju atau keluar dari Surabaya pasti melewati kota Lamongan dan saat itu kereta yang lewat tersebut dilempari dengan batu entah oleh warga Lamongan atau suporter Persela yang ingin membalas dendam teman mereka. Hal ini membuat kami sedikit was-was apalagi ditambah dengan pernyataan pedagang yang menyarankan untuk jauh-jauh dari jendela dan pada saat itu orang yang dekat dengan jendela adalah Agung dan Budhi. Selain kejadian tersebut, ada juga kejadian yang lebih menyedihkan ternyata balckberry Agung hilang ketika telah sampai di Jakarta dan kami menduga handphone tersebut hilang ketika kita semua sedang tertidur di kereta sehingga kita tidak menyadari bahwa ada pencuri mengambil blackberry Agung. Yah meskipun ujungnya cukup menyedihkan tapi secara umum pengalaman yang saya dapatkan dari perjalanan ke Surabaya sungguh mengesankan dan menambah pengalaman saya untuk lebih berhati-hati ketika suatu saat kembali menaiki kereta ekonomi di Pulau Jawa.

0 comments:

Posting Komentar

 
Back to top!